Monday, March 2, 2015

Sayidatina Fatimah Az Zahra



Kelahiran Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a merupakan rahmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Beliau laksana benih yang akan menumbuhkan pohon besar penyambung zuriat Nabi Muhammad saw. Beliau satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenali umat Islam di seluruh dunia. Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a lahir di Makkah, pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum Nabi Muhammad saw di angkat menjadi Rasul.

Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a tumbuh di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Ketika masih anak-anak, Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a sudah mengalami penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Dia berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun, dia bersama ayah bundanya hidup menderita akibat pemboikotan orang-orang kafir Qurays terhadap keluarga Bani Hasyim.

Setelah bebas penderitaan 3 tahun diboikot, datang pula ujian berat atas diri Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a, saat wafatnya bunda tercinta, Siti Khadijah r.a. Perasaan sedih selalu saja menyelubungi hidup kesehariannya dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang ibu.

Nabi Muhammad saw sangat mencintai puterinya ini. Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a adalah puteri bungsu yang paling disayangi dan dikasihi junjungan kita Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad SAW merasa tidak ada seorang pun di dunia, yang paling berkenan di hati baginda dan yang paling dekat di sisinya selain puteri bungsunya itu.

Demikian besar rasa cinta Nabi Muhammad saw kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut Hadis tersebut, Nabi Muhammad saw berkata kepada Sayidina Ali r.a:

“Wahai Ali, sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku, dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku…”

Penyataan baginda itu bukan sekadar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya, bahwa puteri baginda itu merupakan lambang keagungan peribadi yang ditinggalkan di tengah umatnya.

Ketika masih anak-anak, Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a menyaksikan sendiri ujian-uijian getir yang dialami oleh ayah bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan yang dilakukan orang-orang kafir Qurays. Sayidatina Fatimah hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwah, keluarga yang menjadi pusat iman, hidayah dan keutamaan. Dia menyaksikan keteguhan dan ketegasan orang-orang mukmin dalam perjuangan gagah berani menghadapi persekongkolan Qurays. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a dan memainkan peranan penting dalam pembentukan peribadinya, serta mempersiapkan kekuatan ruhaniah bagi menghadapi segala kesulitan di masa depan.

Setelah ibunya wafat, Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya orang yang paling dicintai. Dialah yang meringankan penderitaan Nabi Muhammad saw ketika ditinggal wafat isteri baginda, Siti Khadijah. Pada suatu hari Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan oleh orang-orang Qurays, di saat ayahandanya sedang sujud. Dengan hati remuk-redam laksana disayat sembilu, Sayidatina Fatimah r.a segera membersihkan kepala dan tubuh ayahandanya. Kemudian diambilnya air untuk mencucinya. Dia menangis tersedu-sedu menyaksikan kekejaman orang-orang Qurays terhadap ayahnya.

Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad SAW. Untuk menguatkan hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad SAW sambil membelai-belai kepala puteri bungsunya itu, berkata, “Jangan menangis…, Allah melindungi ayahmu dan akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya.”

Dengan tutur kata penuh semangat itu, Nabi Muhammad saw menanamkan daya juang yang tinggi ke dalam jiwa Sayidatina Fatimah r.a dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta kepercayaan bahwa Islam akan menang. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir Qurays itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi Muhammad SAW tetap melaksanakan tugas risalahnya.

Pada ketika lain, Sayidatina Fatimah r.a menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke punggung Nabi Muhammad saw itu adalah Uqbah bin Mu’aith, Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf. Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sayidatina Fatimah r.a segera membersihkannya dengan air sambil menangis.

Nabi Muhammad rupa-rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qurays itu sudah keterlaluan. Karena itulah maka pada waktu itu baginda memanjatkan doa ke hadrat Allah SWT: “Ya Allah, celakakanlah orang-orang Qurays itu. Ya Allah, binasakanlah Uqbah bin Mu’aith, ya Allah binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.”

Masih banyak lagi pelajaran yang diperolehi Sayidatina Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh ujian. Kehidupan yang serba berat dan keras di kemudian hari memang memerlukan kekuatan jiwa dan mental.

Tepat pada saat orang-orang Qurays selesai mempersiapkan rencana untuk membunuh Nabi Muhammad saw, Madinah telah siap menerima kedatangan baginda. Nabi Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Baginda bersama Abu Bakar As Siddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak saudara. Baginda berhijrah sebagaimana dahulu pernah dilakukan juga oleh Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Musa a.s.

Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW termasuk puteri kesayangan baginda, Sayidatina Fatimah r.a dan putera pamannya baginda yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Sayidina Ali r.a yang selama ini menjadi pembantu yang paling dipercayai oleh baginda.

Sayidina Ali r.a sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khas, yaitu berbaring di tempat tidur baginda untuk mengelabuhi orang-orang Qurays yang bersiap hendak membunuh baginda. Sebelum Sayidina Ali r.a melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad SAW agar barang-barang amanah yang ada pada baginda dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga, Nabi Muhammad saw segera menyusul berhijrah.

Sayidina Ali r.a membeli seekor unta untuk kenderaan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Nabi Muhammad saw terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Sayidina Ali r.a. Di dalam rombongan Sayidina Ali r.a ini termasuk Sayidatina Fatimah r.a, Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Sayidina Ali r.a), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Sayidina Ali r.a berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang ditunggang oleh kaum wanita, agar jangan dikejar oleh orang-orang Qurays. Mengetahui hal itu, Sayidina Ali r.a segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya adalah wanita. Rombongan berjalan melalui padang pasir di bawah sengatan terik matahari.

Di Dhajnan, rombongan Sayidina Ali r.a istirahat semalam. Ketika itu tiba Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Sayidina Ali r.a. Bersama Ummu Aiman turut sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Waktu itu masing-masing sungguh sangat rindu ingin segera bertemu dengan Nabi Muhammad saw.

Waktu itu Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar As Siddiq sudah tiba dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, baginda tinggal di Quba. Baginda menanti kedatangan rombongan Sayidina Ali r.a. Nabi Muhammad saw memberitahu Abu Bakar As Siddiq bahwa baginda tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu, Sayidina Ali r.a tidak berkenderaan sama sekali. Ia berjalan kaki menempuh jarak 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak. Akhirnya tiba semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Nabi Muhammad saw menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.

Ketika Nabi Muhammad SAW melihat Sayidina Ali r.a tidak dapat berjalan kaki karena kakinya membengkak, baginda merangkul dan memeluknya sambil menangis karena sangat terharu. Baginda kemudian meludah di atas tapak tangan lalu diusapkan pada kaki Sayidina Ali r.a. Diiwayatkan, sejak itu hingga wafat, Sayidina Ali r.a tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu sangat memberi kesan dalam hati Nabi Muhammad saw dan tidak dilupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam surah Ali Imran ayat 195.

Ijab Kabul Pernikahan


Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a mencapai puncak remaja dan kecantikannya ketika Islam dibawa Nabi Muhammad SAW sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.a benar-benar telah menjadi anak gadis remaja.

Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pemuda terhormat yang menaruh harapan ingin mempersuntingkan puteri Nabi Muhammad saw itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Ansar telah berusaha melamarnya. Menghadapi lamaran itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa baginda sedang menanti datangnya petunjuk dari Allah SWT mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar As Siddiq r.a, Umar Ibnul Khattab r.a dan Saad bin Muaz bersama-sama Nabi Muhammad saw duduk dalam masjid baginda. Pada kesempatan itu dibincangkan antara lain persoalan puteri Nabi Muhammad saw. Ketika itu baginda bertanya kepada Abu Bakar As Siddiq r.a, “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib?”

Abu Bakar As Siddiq r.a menyatakan kesediaannya. Ia berangkat untuk menghubungi Sayidina Ali r.a. Sewaktu Sayidina Ali r.a melihat datangnya Abu Bakar As Siddiq r.a dengan tergopoh-gopoh, ia menyambutnya dengan terperanjat kemudian bertanya, “Anda datang membawa berita apa?”

Setelah duduk istirahat sejenak, Abu Bakar As Siddiq r.a segera menjelaskan persoalannya, “Wahai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai lebih keutamaan dibandingkan dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian juga engkau adalah kerabat Nabi Muhammad saw. SAW. Beberapa orang Sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada baginda untuk dapat mempersuntingkan puteri baginda. Lamaran itu semuanya baginda tolak. Baginda menyatakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah SWT. Akan tetapi, wahai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri baginda itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu.”

Mendengar perkataan Abu Bakar r.a itu, mata Sayidina Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Sayidina Ali r.a. berkata, “Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa.”

Abu Bakar r.a terharu mendengar jawapan Sayidina Ali yang menyentuh perasaan itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Sayidina Ali r.a, Abu Bakar berkata, “Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!”

Setelah berlangsung dialog seterusnya, Abu Bakar r.a berjaya mendorong keberanian Sayidina Ali r.a. untuk melamar puteri Nabi Muhammad saw.

Beberapa waktu kemudian, Sayidina Ali r.a datang menghadap Nabi Muhammad saw yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salamah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salamah bertanya kepada Nabi Muhammad saw, “Siapakah yang mengetuk pintu?” Nabi Muhammad saw menjawab, “Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!”

Jawapan Nabi Muhammad SAW itu belum dapat memuaskan hati Ummu Salamah r.a. ia bertanya lagi, “Ya, tetapi siapakah dia itu?”

“Dia saudaraku, orang kesayanganku!” jawab Nabi Muhammad SAW.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salamah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Sayidina Ali r.a kepada Nabi Muhammad SAW itu: “Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terhantuk-hantuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempatku semula. Dia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Nabi Muhammad saw. Ia dipersilakan duduk di depan baginda. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud tetapi malu hendak mengutarakannya.

Nabi Muhammad saw mendahului berkata, “Wahai Ali, nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam pikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!”

Mendengar kata-kata Nabi Muhammad saw itu, lahir keberanian Ali bin Abi Thalib untuk berkata, “Maafkanlah aku, ya Rasulullah. Engkau tentu ingat bahwa engkau telah mengambil aku dari paman engkau, Abu Thalib dan ibu saudara engkau, Fatimah binti Asad, ketika aku masih anak-anak dan belum mengerti apa-apa. Sesungguhnya Allah telah memberi hidayah kepadaku melalui engkau juga. Dan engkau, ya Rasulullah, adalah tempat aku bernaung dan engkau jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan Akhirat. Setelah Allah membesarkan aku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga, hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri engkau, Fatimah. Ya Rasulullah, apakah engkau berkenan menyetujui untuk menikahkan diriku dengannya?”

Ummu Salamah meneruskan kisahnya, “Ketika itu kulihat wajah Nabi Muhammad saw nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, “Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?”

“Demi Allah,” jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, “Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.”

“Tentang pedangmu itu,” kata Nabi Muhammad saw menanggapi jawapan Ali bin Abi Talib, “Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah Azza wa Jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!” Demikianlah  riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para Sahabat, Nabi Muhammad saw mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: “Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas  mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”

“Ya, Nabi Muhammad saw, itu kuterima dengan baik,“ jawab Ali bin Abi Tali r.a dalam pernikahan itu.

Demikianlah berlakunya pernikahan antara dua orang yang sangat dicintai oelh Nabi Muhammad saw yakni puterinya, Sayidatina Fatimah dan Sahabat yang jua merupakan sepupu baginda yakni Sayidina Ali. Nabi Muhammad saw mendoakan keberkahan atas perkawinan itu.

Sejarah menyaksikan bahwa Fatimah puteri Nabi Muhammad saw adalah seorang wanita mulia yang menempuh berbagai ujian yang memerlukan pengorbanan yang cukup besar dalam hidupnya. Walaupun beliau adalah puteri Nabi Muhammad saw, namun hidupnya bukannyadiliputi kemewahan dan kesenangan, tetapi kemiskinan dan kesusahan. Ketika menikah dengan Saidina Ali, kehidupannya tetap susah. Walaupun Nabi Muhammad saw pemilik kepada seluruh kekayaan di muka bumi tapi baginda tidak pernah mendidik anaknya dengan kemewahan.

Sewaktu menjadi isteri Sayidina Ali, Sayidatina Fatimah mengurus sendiri keperluan rumah tangganya. Sayidina Ali sering tiada karena keluar berjuang bersama Nabi Muhammad saw.  Setiap hari, Sayidatina Fatimah mengangkut air dari sebuah sumur yang jauhnya dua batu dari rumahnya. Beliau mengisar tepung untuk keperluan makanan keluarganya. Dalam serba susah dan miskin, beliau tetap ingin bersedekah walaupun hanya dengan sebelah biji kurma. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh atau menyalahkan suaminya terhadap kesusahan yang terpaksa dihadapinya. Bahkan dikatakan bahwa seluruh kesusahan wanita di dunia ini telah ditanggung oleh beliau sehingga beliau tidak perlu dipoligamikan. Wanita mulia ini sangat pemalu dan sangat menjaga kehormatan dirinya.

Sewaktu Nabi Muhammad saw hampir wafat, dia menemani ayahanda kesayangannya itu. Ketika itu Nabi Muhammad saw telah berbisik ke telinga kanannya. Nabi Muhammad saw memberitahu Sayidatina Fatimah bahwa sudah sampai masanya untuk baginda menghadap Tuhan. Sayidatina Fatimah sungguh sedih karena akan berpisah dengan ayah yang sangat dikasihinya.  Kemudian baginda berbisik ke telinga kirinya pula. Sayidatina Fatimah tersenyum gembira. Rupa-rupanya, Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa Sayidatina Fatimah adalah orang yang pertama yang akan menyusuli baginda.

Sayidatina Fatimah meninggal di usia 28 tahun, lebih kurang lima bulan selepas wafatnya Nabi Muhammad saw.

Biodata Ahlul Bait Rasulullah saw

NABI MUHAMMAD SAW
Nama ibunya: Siti Aminah bt Wahab
Nama Bapa: Abdullah bin Abdul Mutalib

Nama Isteri-isteri baginda:

1. Siti Khadijah bt Khuwailid
2. Saudah bt Zamah
3. Siti Aisyah bt Abu Bakar
4. Habsah bt Umar
5. Zainab bt Khuzaimah
6. Ummu Salamah
7. Ummu Habibah bt Abu Sufyan
8. Juwairiah
9. Sofiyah bt Huyey
10. Zainab bt Zahsyi
11. Raihanah

Nama anak-anak baginda:

1. Zainab
2. Ruqayyah
3. Ummu Kalsom
4. Fatimah
5. Qosim
6. Abdullah
7. Ibrahim

(Anak-anak lelaki baginda semuanya meninggal sewaktu masih kecil)


Dari pernikahan Sayidatina Fatimah dan Sayidina Ali bin Abi Talib

Anak-anak mereka:

1. Sayidina Hasan
2. Sayidina Husein
3. Zainab (Al Kubra)

Sayidina Ali bin Abi Thalib

Sayidina Ali dilahirkan pada hari Jumat, tanggal 13 Rajab, 12 tahun sebelum Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertamanya. Ibunya, Fatimah, melahirkan Sayidina Ali di Kabah. Ketika itu, Fatimah dan suaminya Abu Talib sedang melakukan tawaf di keliling Kabah. Fatimah yang mengandung tua, tiba-tiba merasa sakit hendak bersalin. Saat itu Abu Talib mengira Fatimah hanya keletihan maka dia membawa Fatimah istirahat di dalam Kabah sebelum meneruskan tawafnya. Di waktu itu, lahirlah Sayidina Ali yang sangat besar jasanya sebagai Sahabat dan menantu Nabi Muhammad saw, juga Amirul Mukminin bagi umat Islam selepas kewafatan Nabi Muhammad saw. Kelahiran Sayidina Ali hanya disaksikan oleh ayah dan ibunya saja.

Ketika umur Sayidina Ali 6 tahun, Mekah sedang dilanda keadaan yang susah. Orang-orang yang banyak anak, pasti merasa susahnya hendak memberi makan keluarganya. Di waktu itu Nabi Muhammad saw teringat jasa pamannya Abu Talib yang pernah menjaga baginda sewaktu kecil. Kini pamannya telah tua sedangkan anaknya banyak. Maka untuk membalas budi pamannya itu, Nabi Muhammad saw yang waktu itu sudah menikah dengan Siti Khadijah, mengambil Sayidina Ali untuk tinggal bersamanya. Sejak itu Sayidina Ali diasuh sendiri Baginda. Betapa besarnya kasih sayang yang dicurahkan oleh Nabi Muhammad saw kepada Sayidina Ali lantaran anak-anak lelaki Baginda telah meninggal.

Berada bersama keluarga Nabi Muhammad saw telah memberi kesan yang sangat besar kepada pertumbuhan ruh Sayidina Ali. Beliau menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan pikiran Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw sendiri yang menjadi penghubung antara Sayidina Ali dan Allah SWT.


Di samping perjuangannya di bidang akidah, ilmu dan pemikiran, Sayidina Ali r.a juga terkenal sebagai seorang pemuda yang memiliki kesanggupan berkorban yang luar biasa besarnya. Ia mempunyai jasmani yang sempurna dan tenaga yang sangat kuat. Sudah barang tentu, itu saja belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung dan kesetiaannya serta kecintaanya yang penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama.

Sayidina Ali r.a tidak pernah hitung-hitungan risiko dalam perjuangan suci menegakkan Islam. Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kukuh dan mantap, Sayidina Ali r.a benar-benar memenuhi syarat-syaratsecara fisik dan ruhaniah untuk menghadapi tahapan perjuangan yang serba berat.

Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan gawat, Sayidina Ali r.a selalu tampil memainkan peranan penting. Selama hidup, beliau tidak pernah mengalami hidup enak. Sejak masa remaja sampai akhir hayatnya, dia keluar masuk dari satu kesulitan menuju satu kesulitan lain. Dari satu pengorbanan menuju satu pengorbanan yang lain. Namun demikian, beliau tidak pernah menyesali nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, beliau senantiasa siap siaga menghadapi segala rintangan. Satu-satunya perkara yang menjadi keinginannya siang dan malam, hanyalah ingin memperoleh keredhaan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup duniawi baginya tidak penting dibandingkan dengan cinta dan redha dari Allah dan Rasul-Nya yang dijanjikan untuk hamba-Nya yang berani hidup di atas jalan kebenaran.

Berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Nabi Muhammad saw. Setiap kali diuji, setiap kali itu juga Sayidina Ali lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian pertama yang sangat berat terjadi ketika Nabi Muhammad saw menerima perintah Allah SWT supaya hijrah ke Madinah.

Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gelita, sekumpulan kafir Qurays mengepung kediaman Nabi Muhammad saw dengan tujuan hendak membunuh baginda, ketika baginda meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini, Sayidina Ali r.a memainkan peranan besar. Beliau diminta oleh Nabi Muhammad saw supaya tidur di atas tempat tidur baginda dan menutup tubuhnya dengan selimut baginda untuk mengaburi mata orang-orang Qurays. Tanpa tawar-menawar, Sayidina Ali r.a menyanggupinya. Ia menangis bukan mencemaskan nyawanya sendiri, tetapi karena bimbang akan keselamatan Nabi Muhammad saw yang saat itu berkemas-kemas hendak berhijrah meninggalkan kampung halaman.

Melihat Sayidina Ali menangis, maka Nabi Muhammad saw bertanya, “Mengapa engkau menangis? Apakah engkau takut mati?”

Sayidina Ali r.a dengan tegas menjawab, “Tidak, ya Rasulullah! Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran, aku sangat khuatir terhadap dirimu. Apakah anda akan selamat, ya Rasulullah?”

“Ya,” jawab Nabi Muhammad SAW dengan tidak ragu-ragu.

Mendengar kata-kata yang pasti dari Nabi Muhammad saw, Sayidina Ali r.a terus berkata, “Baiklah, aku patuh dan kutaati perintahmu. Aku rela menebus keselamatan anda dengan nyawaku, ya Rasulullah!”

Sayidina Ali r.a segera menghampiri tempat tidur Nabi Muhammad saw kemudian menggunakan selimut baginda untuk menutupi tubuhnya. Ketika itu orang-orang kafir Qurays sudah mula berdatangan di sekitar rumah Nabi Muhammad saw dan mengepungnya dari setiap penjuru. Dengan perlindungan Allah SWT dan sambil membaca ayat 9 surah Yasin, baginda keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintip.

Orang-orang Qurays itu menyangka, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad SAW. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku kabilah Qurays yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad SAW dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas.

Sayidina Ali r.a tahu apa kemungkinan yang akan menimpa dirinya yang tidur di tempat tidur Nabi Muhammad saw. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa beliau berserah diri kepada Allah SWT. Beliau yakin, bahwalah Dialah yang menentukan segala-galanya.

Menjelang subuh, Sayidina Ali r.a bangun. Gerombolan Qurays terus menyerbu masuk ke dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya, “Mana Muhammad? Mana Muhammad?”

“Aku tak tahu di mana Muhammad berada!” jawab Sayidina Ali r.a dengan tenang.

Gerombolan Qurays itu segera mencari-cari di seluruh rumah itu. Usaha mereka sia-sia belaka. Puak-puak kafir Qurays itu benar-benar kecewa.

“Mana Muhammad? Mana Muhammad?” mereka mengulangi pertanyaan.

“Apakah kamu semua melantik aku menjadi penjaganya?” ujar Sayidina Ali r.a dengan nada memperolok-olok. “Bukankah kamu semua berniat mengeluarkannya dari negeri ini? Sekarang dia sudah keluar meninggalkan kamu semua!”

Ucapan Sayidina Ali r.a sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, sama sekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Qurays itu dicemuhkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu menghayunkan pedang ke arah Sayidina Ali r.a, entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu.

Keesokan harinya, Sayidina Ali r.a berkemas-kemas mempersiapkan segala keperluan  untuk berangkat membawa beberapa orang wanita Bani Hasyim, terutama Siti Fatimah r.a menyusul perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam hijrahnya ke Madinah.

Rombongan Sayidina Ali r.a berangkat secara terang-terangan di siang hari. Setibanya di Dhajnan, berlaku keadaan yang sungguh mencemaskan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Puak musyrikin telah berusaha menghalang rombongan Sayidina Ali dari meninggalkan Kota Mekah.

Sayidina Ali r.a yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus pedang untuk mematahkan usaha bersenjata orang-orang kafir Qurays. Dengan berani, beliau mengayunkan pedang ke arah seorang musyrikin bernama Jenah yang berada di atas kudanya. Terbelahlah tubuh Jenah menjadi dua. Melihatkan keadaan itu,   7 orang dari pasukan berkuda Qurays yang sebelum itu mengejar rombongan Sayidina Ali lari pontang-panting.  Dengan keberanian Sayidina Ali itu, selamatlah rombongan kaum muslimin itu.

Ketika berlaku Perang Badar, yang merupakan perang pertama yang terpaksa diharungi oleh kaum muslimin menghadapi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya, untuk pertama kalinya panji perang Nabi Muhammad saw berkibar di medan pertempuran.  Orang yang diberi kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah SWT itu ialah Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a.

Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan iman yang teguh berjaya mencipta sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam seterusnya. Senjatan kaum muslimin waktu itu boleh dibilang dengan jari. Tentera muslimin juga tidak memiliki pasukan berkuda dan penunggang unta, iaitu pasukan yang dipandang paling ampuh pada masa itu. Begitu juga jumlah kuda dan unta berbanding jumlah pasukan yang ada, sehingga seekor unta ditunggang oleh dua hingga empat secara bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, iaitu yang ditunggang oleh Miqdad bin Al Aswad Al Kindiy. Itulah kekuatan lahiriah pasukan Nabi Muhammad saw di dalam perang Badar.

Dalam perang Badar itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai senjata lengkap dengan kuda-kuda tunggangan dan unta-unta. Tetapi sebenarnya kaum muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh berbanding lawannya, iaitu kepimpinan Nabi Muhammad saw dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Allahu Akbar.

Ketika peperangan mula berkobar, Sayidina Ali bersama Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib dan beberapa orang lainnya, berada di barisan hadapan. Pada tangan Sayidina Ali r.a berkibar panji perang Nabi Muhammad saw. Beliau terjun ke medan perang menerjang pasukan musuh yang jauh lebih besar dan kuat. Dalam perang ini untuk pertama kalinya kalimah “Allahu Akbar” berkumandang menyuburkan tekad pasukan muslimin.

Saat itu terdengar suara musuh menentang, “Wahai Muhammad, suruhlah orang-orang yang berwibawa yang berasal dari Qurays supaya tampil!”

Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar, Sayidina Ali r.a meloncat maju ke depan mendekati suara yang menantang itu. Terjadilah perang satu lawan satu antara Sayidina Ali r.a dengan Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang sengit itu, Al Walid mati di hujung pedang Sayidina Ali r.a.

Dalam perang Badar ini, 70 orang pasukan kafir Qurays mati terbunuh, dan hampir separuhnya mati di hujung pedang Sayidina Ali r.a. Selain itu, lebih dari 70 orang pemuka Qurays berjaya ditawan dan dibawa ke Madinah. Perang Badar yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin itu merupakan fajar pagi yang menandakan sinar agama Allah SWT akan mula memenuhi bumi.

Dalam peperangan yang kedua yakni Perang Uhud, Nabi Muhammad saw menyerahkan panji kaum muhajirin kepada Sayidina Ali r.a. Sedangkan panji kaum Ansar diserahkan kepada salah seorang di antara mereka sendiri. Peperangan Uhud terkenal dalam sejarah sebagai peperangan yang amat gawat. 700 pasukan muslimin harus berhadapan dengan 3000 pasukan kafir Qurays yang dipersiapkan dengan bekalan dan senjata serba lengkap. Selain itu diperkuat pula dengan pasukan wanita di bawah pimpinan Hindun binti Utbah, isteri Abu Sufyan bin Harb, untuk memberikan dorongan moral agar orang-orang kafir Qurays jangan sampai lari meninggalkan medan perang.

Untuk menghadapi kaum musyrikin yang sudah memusatkan kekuatan di Uhud, pasukan muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw menuju ke tempat itu, dengan melalui jalan pintas sehingga gunung Uhud berada di belakang mereka. Kemudian Nabi Muhammad saw mulai mengatur barisan. 50 orang pasukan pemanah ditempatkan di sebuah lembah di antara dua bukit. Kepada mereka diperintahkan supaya menjaga pasukan yang ada di belakang mereka. Ditekankan jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan apa sekalipun. Sebab hanya dengan senjata panah sajalah serbuan pasukan berkuda musuh dari belakang dapat ditahan.

Perang Uhud mula berkobar dengan tampilnya Sayidina Ali r.a ke depan menghadapi tentangan Talhah bin Abi Talhah yang mencabar dengan suara lantang, “Siapakah yang akan ke depan berlawan satu dengan satu?”

Seperti api disiram dengan minyak, semangat Sayidina Ali r.a membara. Dengan hayunan langkah tegap dan tenang, serta sambil mengetap giginya, beliau mara dengan pedang terhunus. Baru saja Talhah bin Abi Talhah menggerakkan tangan hendak menghayun pedang, secepat kilat pedang Sayidina Ali r.a “Dzul Fikar” menyambarnya hingga terbelah dua. Betapa bangga Nabi Muhammad saw menyaksikan ketangkasan putera bapa saudaranya itu. Ketika itu kaum muslimin yang menyaksikan ketangkasan Sayidina Ali r.a, mengumandangkan takbir masing-masing.

Dengan tewasnya Talhah bin Abi Talhah, pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan. Sekarang Abu Dujanah tampil dengan memakai ikatan maut di kepala dan pedang terhunus di tangan kanan yang baru saja diserahkan oleh Nabi Muhammad saw kepadanya. Dia seorang yang sangat berani. Laksana harimau keluar dari semak belukar ia maju menyerang musuh dan membunuh siapa saja dari kaum musyrikin yang berani mendekatinya. Bersama Abu Dujanah, Sayidina Ali r.a menghuru-harakan barisan musuh.

Dalam pertempuran ini, Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib tidak kalah semangat berbanding dengan keponakannya sendiri, Sayidina Ali r.a dan Abu Dujanah. Hamzah begitu lincah dan tangkas menerobos pasukan musyrikin dan menewaskan setiap orang yang berani menghampiri. Ia terkenal sebagai tokoh besar dalam menghadapi musuh. Sama seperti dalam perang Badar, dalam perang Uhud ini, Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di hujung pedangnya.

Dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pasukan musyrikin itu, kita saksikan gabungan kekuatan ruhaniah dan lahiriah Sayidina Ali r.a, Hamzah dan Abu Dujanah. Suatu kekuatan yang membuat pasukan Qurays menderita.

Sayang seribu kali sayang. Ketika tentera Muslimin hampir menang, mereka tergoda dengan harta rampasan perang yang banyak. Pasukan memanah terlupakan pesanan Nabi Muhammad saw agar tidak meninggalkan posisi mereka. Mereka turun dari bukit untuk mengambil harta-harta yang ditinggalkan tentera musyrikin. Waktu itulah pihak musuh kembali menyusun barisan dan memulakan serang ke atas tentera Islam yang sedang terleka.

Keadaan kembali gawat. Barisan tentera Islam telah bercerai-berai, terpisah dari pimpinan Nabi Muhammad saw. Di saat-saat genting itu, Sayidina Ali r.a dan para Sahabat lainnya segera melindungi Nabi Muhammad saw. Dengan segenap kekuatan yang ada, mereka menangkis setiap serangan yang datang demi menyelamatkan Nabi Muhammad saw. Semua sudah bertekad untuk mati syahid, terlebih lagi setelah melihat Nabi Muhammad saw terkena lemparan batu besar yang dilemparkan oleh Utbah bin Abi Waqash. Akibat lemparan batu itu, geraham Nabi Muhammad saw patah, wajahnya pecah-pecah, bibirnya luka parah dan dua kepingan rantai topi besi melindungi wajah baginda menembus pipinya.

Setelah dapat menguasai diri kembali, Nabi Muhammad saw berjalan perlahan-lahan dikelilingi oleh sejumlah Sahabat. Tiba-tiba baginda terperosok ke dalam sebuah liang yang sengaja digali oleh Abu Amir untuk menjebak pasukan muslimin. Sayidina Ali r.a bersama beberapa orang Sahabat lainnya cepat-cepat mengangkat baginda. Kemudian dibawa naik ke gunung Uhud untuk diselamatkan dari diburu musuh. Di celah-celah bukit, Sayidina Ali r.a mengambil air untuk membasuh wajah Nabi Muhammad saw dan menyirami kepala baginda. Dua buah kepingan rantai besi yang menancap dan menembusi pipi baginda dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah dengan giginya, sehingga dua batang gigi depannya tertanggal.

Demikian sebagian rentetan perjuangan Sayidina Ali yang turut terjun ke medan peperangan bersama Nabi Muhammad saw.  Sayidina Ali terkenal sebagai seorang yang sangat pemurah. Sewaktu hidupnya, beliau yang miskin, sangat suka membantu janda-janda dan anak-anak yatim tanpa pengetahuan mereka.  Beliau selalu meletakkan makanan di pintu-pintu rumah mereka di waktu malam. Setelah beliau meninggal, barulah mereka tahu bahwa selama ini mereka mendapat makanan dari Sayidina Ali karena setelah beliau tiada maka mereka tidak lagi mendapat makanan di pintu rumah mereka.

Sayidina Ali adalah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw yang sangat cerdik dan luas ilmunya.  Nabi Muhammad saw pernah menyebut bahwa Sayidina Ali adalah gudang ilmu. Setelah kewafatan Khalifah ketiga yakni Khalifah Uthman Ibnu Affan maka Sayidina Ali dilantik sebagai Khalifah yang keempat.

Kata Sayidina Ali:

“Allah SWT mengetahui betapa aku tidak suka memimpin pemerintahan atau memegang kekuasaan di kalangan umat Nabi Muhammad SAW sebab aku mendengar sendiri baginda bersabda: Tidak ada seorang penguasa pun yang memerintah umatku, yang kelak tidak akan dihadapkan kepada rakyatnya, untuk diperlihatkan catatan-catatan perbuatanya. Jika dia seorang yang adil, maka selamatlah. Tapi jika dia seorang yang berlaku zalim, akan tergelincirlah ke dalam Neraka.”

Allah SWT mentakdirkan Sayidina Ali meninggal dunia pada 17 Ramadhan tahun 40 Hijrah. Ketika beliau sedang berjalan menuju ke masjid untuk sholat Subuh, tiba-tiba muncul Abdul Rahman bin Muljam dengan pedang terhunus. Pedang itu telah mencederai Sayidina Ali dengan parah hingga beliau rebah.  Sayidina Ali kemudiannya diusung pulang ke rumahnya oleh para Sahabat. Ketika itu banyak yang ingin menuntut balas tetapi Sayidina Ali sendiri dengan lapang dada dan ikhlas langsung tidak menyebut tentang balas dendam. Umat Islam merasa sedih melihat keadaan Sayidina Ali yang semakin lemah. Sayidina Ali tahu bahwa sudah hampir masanya untuk beliau menyusul Nabi Muhammad saw dan tiga orang Khalifah baginda sebelum ini. Dalam keadaan yang sungguh berat itu, Sayidina Ali sempat berwasiat:

“Ku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah. Janganlah kalian mengejar dunia walau dunia mengejar kalian dan janganlah menyesal jika ada sebagian dunia itu terlepas darimu.  Hendaklah kalian mengatur baik-baik urusan kalian dan jagalah hubungan persaudaraan antara kalian. Ketahuilah, pertengkaran itu merusakkan agama dan ingatlah bahwa tidak ada kekuatan apa pun selain atas perkenan Allah. Perhatikan anak-anak yatim agar jangan sampai mereka kelaparan dan jangan sampai kehilangan hak. Perhatikan Al Quran, jangan sampai kalian mendahulukan orang lain dalam mengamalkannya. Perhatikan tetangga kalian sebab mereka adalah wasiat Nabi kalian.”